Skip to content

Jangan Mau Dikerjain Algoritma

Setelah matinya friendster, temanku menyarankan untuk membuat akun Facebook, itupun agar ia dapat mengajakku bermain game. Kubuat dengan nama asli, foto profilnya menggunakan foto default yang ada di folder wallpaper windows 7 komputer warnet. Pokoknya yang penting ada dulu. Setelah ada, ya nggak aku apa-apakan, penghuninya belum seramai sekarang yang udah kelewat bising. Akun facebook itu baru kuurusi ketika seorang teman meledekku di lab komputer kalau aku ternyata punya akun dan fotonya menggunakan foto wallpaper komputer. Satu kelas menertawakanku. Aku sih yakin banget, mayoritas yang tertawa itu belum punya akun, bahkan belum pernah mengaksesnya sama sekali.

Dari situ aku mulai menghidupkan akun facebook. Aku gunakan untuk membagikan hal-hal yang kualami, saling berkomentar, berbalas like, wall to wall, atau hanya saling berkata salkomsel. Seiring majunya waktu, aku mulai menggunakan Facebook untuk berbagi informasi-informasi, misuh, atau bahkan menjadi album foto cloud. Karena fitur facebook masih sangat minim.

Tidak lama kemudian, akun membuat akun twitter di 2009. Seperti biasa, aku jelajahi fitur-fitur yang ada dan ternyata twitter lebih terbatas, tapi dari keterbatasan itulah timbul kesan ekslusif. 

Aku kurang tahu bagaimana bisa instagram dan twitter menyajikan konten yang aku sukai walaupun aku jarang membicarakannya. Aku hanya berinteraksi via kunjungan akun dan like beberapa post. Begitu pula Facebook, mereka mengubah urutan kiriman yang awalnya berdasarkan waktu kiriman (yang paling baru dikirim akan ditampilkan paling atas) menjadi yang dirasa menarik bagiku ditampilan paling awal.

Ternyata mereka sudah membangun algoritmanya!

Algoritma disusun berdasarkan data yang terkumpul dari aktivitas kita. Kata kunci, akun yang dikunjungi, kiriman yang dilihat, like, semuanya dikumpulkan dan dikemas untuk kemudian diaplikasikan kembali ke akunku.

Aku analogikan media sosial adalah sebuah pasar yang sangat luas, dan kamu adalah calon pembelinya. Algoritma ini bagaikan calo. Ketika kamu memasuki pasar pada saat pertama kali, kamu melihat pasar seperti pada umumnya, pedagang yang beragam diposisinya yang bertebaran. Kamu mulai melihat lihat sayuran, sempat berhenti di depan toko daging, dan akhirnya menanyakan harganya, kemudian pulang. Tapi tanpa kamu sadari si calo tadi selalu mengikuti kamu, mencatat apa yang kamu lihat dan di toko mana kamu berhenti. Keesokan harinya ketika kemu mendatangi pasar, si calo langsung menhampirimu dan menawarkan berbagai macam daging, kemudian sayuran dan tetek bengeknya. Ia mengantarkanmu ke toko sayur yang ada. Di toko sayur, kamu membeli cabai dan wortel, namun calo tadi tetap menawarkanmu daging.

Hari ketiga kamu ke pasar, calo tadi sudah menyajikan toko sayur dan daging di bagian depan pasar, dan langsung menawarimu berbagai cabai, wortel dan sayuran lain, tak lupa juga tetap menawarkanmu daging. Sampai kamu lupa bahwa kamu juga harus mencari sabun cuci piring. Tapi karena calo tadi, toko sabun cuci piring seperti tak terlihat. Nah kalau kamu turuti terus saran di calo ini maka kamu akan tetap di situ-situ saja.

Calo harus dijinakkan, kitalah yang menentukan mau kemana dan membeli apa. Kita harus bisa menolaknya dan bilang kalau kita mau ke toko sabun. Maka ia pun akan mulai berhenti menyarankan sayuran dan daging. Tapi masalah kembali muncul, yaitu esoknya ia akan menawari kita berbagai macam sabun, tampilan depan pasar dipenuhi pedagang sabun. Padahal kita hanya ingin membeli garam, misalnya. 

Kurang lebih seperti itulah cara algoritma media sosial bekerja. Membaca kebiasaan dan ketertarikan kita kemudian menyajikan sesuatu yang revelan dengan itu.

Namun, bagiku algoritma ini semakin menjenuhkan. Bukan karena mereka jarang menyajikan yang aku sukai, namun justru lebih dari itu. Mereka menjadikanku katak dalam tempurung. Itu-itu saja yang kulihat. Tak ada pandangan lain, pemikiran yang berlawaan, atau penyeimbang argumen. Semuanya seperti tidak ada. Hanya yang sesuai dengan pemikiranku saja yang disajikan. Menurutku ini berbahaya sekali, ini bisa mematikan nalar seseorang dan terjerumus dalam satu pandangan saja.

Aku berpikir untuk menjinakkan algoritma ini, agar jangan sampai aku dikendalikan olehnya, tapi ia yang kuperalat, dan memang ia hanyalah alat untuk membantu manusia. Kita kembalikan ke fitrahnya saja kalau gitu.

Aku mulai mengakses akun-akun yang bersebrangan lalu semisal aku mempunyai pendangan A maka aku juga berinteraksi dengan pandangan B. Aku mendukung gerakan A dan membenci gerakan B. Maka aku berinteraksi dengan keduanya. Informasi di beranda mulai beragam, tidak monoton seperti sebelumnya. Namun buah dari akses yang kubuka, mulai tampil akun-akun ekstrimis, ekstrimis kanan maupun kiri. Kontennya gila, sehari bisa puluhan kali, dan karena “mau gak mau” pasti terlihat maka algoritma mencatat aku sering melihat konten tsb dan mengira bahwa aku menyukainya. Tidak butuh waktu lama, akun-akun sejenis mulai makin banyak yang muncul.

Selanjutnya rumput-rumput liar ini kupangkas habis. Aku blokir satu persatu, report dan memeriksa keterkaitannya dengan akun-akun yang aku ikuti. Kemudian aku sedikit berhati-hati menyetop scroll, hanya di konten yang benar-benar menurutku bermanfaat. Kemudian di akun-akun hiburan fresh. Bahkan tidak sekalipun menyempatkan like di konten yang sekiranya akun-akun sejenis dengan konten tersebut dapat membuat bising lagi. Feed media sosialku mulai bersih, setidaknya sampah yang ada hanyalah meme-meme komik lucu-lucuan dan shitpost yang memang sengaja tidak “kubuang”.

Akhirnya algoritma menjadi jinak dengan sendirinya. 

Algoritma dahulu memang sebuah teman bagi kita untuk menjelajahi luasnya internet dan menemui apa yang kita maksud dan yang serupa dengan itu. Namun semakin diikuti, kita justru akan terjebak dalam suatu circle yang kita buat sendiri dan yang lebih parah algoritma terus menjejali kita dengan itu. Ia butuh dijinakkan. Butuh kekangan agar tidak membabi buta. Aku berpikir, apakah mereka akan berhenti sampai di sini? Aku kira tidak. Mereka akan mempelajari kita lebih kompleks lagi. Tapi setidaknya hal-hal dasar kita dalam bersosial tidak terdikte olehnya. Tapi dengan semakin candunya kita terhadap teknologi, apa kita bisa ?

Kembali lagi, ini semua hanya bisnis, sayang…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Ask ChatGPT
Set ChatGPT API key
Find your Secret API key in your ChatGPT User settings and paste it here to connect ChatGPT with your Tutor LMS website.
Shopping cart0
There are no products in the cart!
Continue shopping
0